Lokakarya pemanfaatan data terpadu untuk ketepatan sasaran dan meningkatkan konvergensi pencegahan anak kerdil

Lokakarya pemanfaatan data terpadu untuk ketepatan sasaran dan meningkatkan konvergensi pencegahan anak kerdil berlangsung di Hotel Grand Mercure Jakarta diprakarsai oleh Kementerian Sosial RI.

Acara berlangsung selama 3 hari (27-29/12/18), menghadirkan 115 peserta dari 49 kabupaten dari 5 provinsi di Indonesia, di buka oleh  Sekretaris Eksekutif TNP2K (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan), Bpk Bambang Widianto.

Dalam arahan pembukaan yang disampaikan, menekan pada pentingnya basis data terpadu untuk program perlindungan sosial yang dikelola melalui sebuah system dengan pengabungan atau mengitegrasikan media-media yang ada untuk mencapai tujuan (konvergensi). Pada akhirnya, dapat digunakan untuk perencanaan program dan kegiatan yang terfokus di daerah. Dengan pemanfaatan data terpadu nantinya, dapat  mengidentifikasi nama dan alamat yang tepat sasaran. Tepat untuk diintervensi baik secara langsung maupun melalui dukungan terhadap program tertentu.

Menurutnya, “Basis data terpadu terkait dengan anak kerdil atau stunting memiliki peran penting. Dengan pemanfaatan data ini, akan lebih mudah untuk melalukan analisis atau perencanaan kegiatan/program penanggulangan stunting di daerah” Dapat digunakan oleh instansi pemerintah dalam menetapkan sasaran penerima manfaat program-program perlindungan sosial ini.

Sementara dari hasil konfirmasi peserta dari Kabupaten Fakfak, Umar Heremba, ST dan Said Atamimi yang mewakili Bappeda & Litbang Kabupaten Fakfak sesuai dengan undangan panitia menyatakan bahwa data terpadu ini sangat vital dalam membantu daerah dan untuk konsumsi daerah, perlu dilakukan pemutahiran sehingga benar-benar tervalidasi dan menghasilkan data BNBA (by name by adrees). Siapa dan sasaran mana yang mesti lakukan intervensi.

Disampaikan bahwa dengan aplikasi program yang terinstal dari kementrian, tentu menjadi tanggung jawab untuk membackup system dan data ini lebih baik sesuai dengan arahan yang disampaikan. Sementara terkait materi yang diperoleh dalam lokakarya ini, lebih mengarah pada pemberian pemahaman program stunting atau sebuah program untuk mengintervensi dan difokuskan pada anak balita dengan kondisi gagal tumbuh atau pada anak balita (bayi di bawah lima tahun) akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Hal ini dapat terjadi akibat kekurangan gisi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir. Kenampakan kondisi stunting terlihat pula setelah bayi berusia 2 tahun.

Beberapa faktor yang menyebabkan stunting adalah praktek pengasuh anak yang kurang baik, masih terbatasnya layanan kesehatan ibu selama masa kehamilan atau pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).  dan layanan kesehatan untuk balita. Masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi dan kurangnya akses air bersih dan sanitasi. Oleh karena itu program ini tepat agar daerah memiliki data yang terpadu dan akurasi melalui pengelolaan aplikasi stunting yang sesuai dan mampu menjamin dalam penanganan sesuai dengan data BNBA yang tepat sasaran dan tercapai targetnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *